https://betwin188.online/

Viral Anak 2 Bulan Dicekoki Bubur Bayi Bikin Warganet Geram

Selalu ada yang greget dari unggahan para warganet di media sosial. Ada yang greget bikin kagum, namun banyak pula yang bikin geram. Seperti unggahan dari salah seorang warganet yang sempat viral beberapa waktu lalu di media sosial Facebook berisi video seorang bayi yang disebut-sebut masih berusia 2 bulan namun sudah diberi makan. Nggak tanggung-tanggung, bayi yang terlihat masih sangat mungil tersebut dibaringkan oleh sang ibu dan dijejali bubur bak sudah siap MPASI. Padahal, menurut panduan MPASI dari WHO, usia minimal MPASI adalah setelah bayi genap berumur 6 bulan (5 bulan 30 hari). Jadi sebelum mencapai usia tersebut, tanpa ada pengawasan ketat dari dokter spesialis anak, maka tidak dianjurkan memberikan asupan apapun selain ASI atau susu formula. Bahkan air putih atau pisang pun tak dianjurkan bagi anak di bawah usia tersebut lo!

Yang membuat semakin miris, ternyata masih banyak komentar yang meremehkan hal tersebut dan membandingkan dengan kebiasaan turun temurun keluarganya yang merasa sah dan baik-baik saja memberikan asupan makanan sebelum usia siap MPASI yaitu 6 bulan. Dikutip betwin188 Untuk kamu para calon ibu, agar nggak sampai salah kaprah dan membahayakan nyawa anak sendiri, baca dulu yuk ulasan fakta seputar bahaya MPASI dini pada anak. Bukan cuma sia-sia, tapi juga risikonya yang tinggi mengancam nyawa!

1. Seperti sedang memberikan tutorial memberikan makan bayi, video unggahan yang dibagikan di media sosial Facebook beberapa waktu lalu ini membuat banyak warganet merasa geram!
Seperti dilansir dari The Asian Parent Indonesia, selain karena mulut dan lidah bayi yang belum siap mengunyah makanan selembut apapun, usus dan sistem pencernaan bayi di bawah 6 bulan juga sesungguhnya belum mampu mencerna makanan padat. Selain dapat membuat anak tersedak karena masih memiliki reflek menjulurkan lidah dan lehernya belum bisa tegak sendiri, MPASI dini juga berisiko membuat bayi mengalami masalah pencernaan seperti infeksi usus, yang menyebabkan bayi harus mendapatkan perawatan intensif bahkan kehilangan nyawa karena tersedak seperti kasus di atas.

3. Jangankan memberikan pisang, memberikan air putih atau madu saja cukup berisiko lo. Nggak main-main, akibatnya sang anak bisa sampai meregang nyawa hanya karena kecerobohan orangtua
Tahukah kamu, memberikan air putih pada bayi di bawah 6 bulan tanpa alasan medis khusus dan pengawasan ketat dari dokter berisiko membuat bayi mengalami gizi buruk? Pasalnya minum air putih dapat menyebabkan perut bayi terasa penuh yang membuat keinginan makannya berkurang sehingga mengganggu asupan ASI-nya. Selain itu, seperti dilansir dari laman Alodokter, memberikan air putih pada bayi berisiko diare dan keracunan air. Nah, selain air putih, seperti dilansir dari laman Hello Sehat, ternyata madu pun sangat berisiko diberikan pada bayi di bawah satu tahun karena madu mengandung spora bakteri Clostridium botulinum yang dapat menyebabkan botulisme. Spora dari bakteri Clostridium botulinum yang tertelan bayi kemudian dapat berkembang dan memperbanyak diri di usus bayi, serta memproduksi racun yang berbahaya dan menyebabkan botulisme. Jika bayi sampai terkena botulisme, dia akan mulai menunjukkan gejala awal, seperti konstipasi atau sembelit, disertai dengan lesu dan nafsu makan berkurang. Duh, jangan sampai deh ya!

4. Sebelum memberikan MPASI, jelang usia 6 bulan sebaiknya para orangtua juga memperhatikan tanda-tanda kesiapan mendapatkan MPASI. Ngiler lihat makanan saja belum tentu tanda anak siap makan, lo!
Menurut para pakar medis, anak sudah mulai boleh diberikan MPASI setelah berusia minimal 6 bulan atau sesuai anjuran dokter spesialis anak yang menangani. Adapun tanda-tanda kesiapan MPASI pada anak seperti dilansir dari laman IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) adalah sebagai berikut:

kepala sudah tegak
dapat duduk, minimal dengan bantuan
refleks menjulurkan lidah berkurang
tertarik melihat orang makan
mencoba meraih makanan
membuka mulut jika disodori sendok atau makanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *